Jumat, 04 Februari 2011

KALIMAT EFEKTIF BAHASA INDONESIA


KALIMAT EFEKTIF BAHASA INDONESIA
I. Konsep Kalimat Efektif
Apa sebenarnya kalimat efektif itu? Kalimat efektif adalah kalimat yang  secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan penulis dan  sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca seperti yang dipikirkan penulis. Di samping, kerangka sintaksis dan kosa kata, kita memerlukan syarat-syarat lain untuk dapat menciptakan kalimat yang efektif.  Syarat-syarat lain tersebut  mencakup pula masalah kegayabahasaan dan penalaran, yaitu: kesatuan gagasan, koherensi yang kompak, penekanan, variasi, paralelisme, dan penalaran (Keraf 1997).

a.      Kesatuan gagasan
Setiap kalimat yang baik dituntut jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, mengandung satu ide pokok. Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan lain yang tidak ada hubungan, atau menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali. Bila dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan disatukan,   akan rusak kesatuan pikiran itu.     Kesatuan gagasan janganlah pula diartikan bahwa hanya terdapat suatu ide tunggal. Bisa terjadi bahwa kesatuan gagasan itu terbentuk dari dua gagasan pokok atau lebih. Secara praktis sebuah kesatuan gagasan diwakili oleh subyek, predikat dan ± obyek. Kesatuan yang diwakili oleh subyek, predikat dan ± obyek itu dapat berbentuk kesatuan tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan  yang mengandung pertentangan.
Contoh-contoh berikut dapat menjelaskan kesatuan gagasan tersebut, baik kesatuan yang terpadu, dan kesatuan yang  tidak terpadu.
1)      Yang jelas kesatuan gagasannya
(1)   Kita bisa merasakan dalam kehidupan sehari-hari, betapa emosi itu seringkali merupakan tenaga pendorong yang amat kuat dalam tindak keihdupan kita (kesatuan tunggal)
(2)   Dia telah meninggalkan rumahnya jam enam pagi, dan telah berangkat dengan pesawat satu jam yang lalu (kesatuan gabungan)
(3)   Ayah bekerja di perusahaan pengangkutan itu, tetapi ia tidak senang dengan pekerjaan itu (kesatuan yang mengandung pertentangan)
(4)   Kamu boleh menyusun saya ke tempat itu, atau tinggal saja di sini (kesatuan pilihan)

2)      Yang tidak jelas kesatuan gagasannya
Kesatuan gagasan biasanya menjadi kabur karena kedudukan subjek atau predikat tidak jelas, terutama karena salah menggunakan kata depan. Kesalahan lain terjadi karena kalimatnya terlalu panjang sehingga penulis atau pembicara sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang mau dikatakan. Coba perhatikan kalimat-kalimat berikut, dan katakan mengapa kesatuan gagasannya tidak jelas atau kabur.

Tidak Jelas Kesatuan Gagasannya
Jelas Kesatuan Gagasannya
(1)      Di daerah-daerah sudah mempu-nyai Lembaga Bahasa
(2)      Di dalam pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara anak didik dan pendidik
(3)      Karena bahasa Kesatuan Indonesia yang berasal dari bahasa nasionalnya.
(4)      Terhadap orang yang lebih tinggi umurnya dan atau kedudukannya berbeda caranya.

(1)   Daerah-daerah sudah mempunyai Lembaga Bahasa
(2)   Pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara anak didik dan pendidik
(3)   Bahasa Kesatuan Indonesia berasal dari bahasa nasionalnya.
(4)   Orang yang lebih tinggi umurnya dan atau kedudukannya berbeda caranya.


            Kesatuan gagasan ini berkait dengan ekonomi kata atau penggunaan kata yang tidak mubazir. Dalam bahasa jurnalistik, hal ini menjadi perhatian. Penggunaan kata-kata bahwa, adalah, telah, untuk, dari, di mana, hal mana, yang mana, kata-kata penat (lihat Anwar 1979). Perhatikan contoh berikut.


Tidak Jelas Kesatuan Gagasannya
Jelas Kesatuan Gagasannya
(1)   Tidak diragukan lagi bahwa dialah orangnya yang tepat.
(2)   Kera adalah binatang pemamah biak.
(3)   Kemarin presiden  telah meninjau usaha peternakan di daerah Bogor.
(4)   Pemerintah memutuskan untuk mencabut larangan berkumpul.
(5)   Keterangan dari Menteri Perdagangan membuat petani kecewa.
(1)   Tidak diragukan lagi dialah orangnya yang tepat.
(2)   Kera binatang pemamah biak.
(3)   Kemarin presiden   meninjau usaha peternakan di daerah Bogor.
(4)   Pemerintah memutuskan  mencabut larangan berkumpul.
(5)   Keterangan Menteri Perdagangan membuat petani kecewa.


 

b. Koherensi yang baik dan kompak

            Keraf (1997) menyatakan yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Bagaimana hubungan antara subjek dan predikat, hubungan antara predikat dan objek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi.
            Setiap bahasa memiliki kaidah-kaidah tersendiri bagaimana mengurutkan gagasan-gagasan tersebut. Ada bagian-bagian kalimat yang memiliki hubungan yang lebih erat sehingga tidak boleh dipisahkan, ada yang lebih renggang kedudukannya sehingga boleh ditempatkan di mana saja, asal jangan disisipkan antara kata-kata atau kelompok kata yang rapat hubungannya. Kesalahan yang seringkali juga merusakkan koherensi adalah menempatkan kata depan, kata penghubung yang tidak sesuai atau tidak pada tempatnya, penempatan keterangan aspek yang tidak sesuai dan sebagainya.
            Bilaman gagasan yang tidak berhubungan satu sama lain disatukan, selain merusak kesatuan pikiran, juga akan merusak koherensi kalimat yang bersangkutan. Dalam kesatuan pikiran lebih ditekankan adanya isi pikiran, sedangkan dalam koherensi lebih ditekankan segi struktur, atau interrelasi antara kata-kata yang menduduki sebuah tugas dalam kalimat. Sebab itu, bisa terjadi bahwa sebuah kalimat dapat mengandung sebuah kesatuan pikiran, tetapi koherensinya tidak baik. Ketidakbaikan koherensi kalimat itu dapat disebakan oleh hal-hal sebagai beriut:

1)      Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.

Koherensi Baik

Koherensi tidak Baik
Adik saya yang paling kecil memukul anjing di kebun kemarin pagi, dengan sekuat tenaganya.

·     Adik saya yang paling kecil memukul dengan sekuat tenaganya kemarin pagi di  kebun anjing.   atau
·     Anjing kemarin pagi di kebun adik saya memukul dengan sekuat tenaga.

Demikian pula, pemisahan saya yang paling kecil dari kata adik juga akan merusak koherensi kelompok kata dalam kalimat.

2)      Kepaduan sebuah kalimat akan rusak pula karena salah mempergunakan kata depan, kata penghubung, dan sebagainya.

Koherensi tidak Baik

Koherensi Baik
(1)  Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang (tanpa bagi)
(2)  Sejak lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alat, atau kepada pihak lain karena merasa dirinya lebih kuat (tanpa kepada)
(3)  Walaupun segi kepariwisataan telah memberi lapangan kerja kepada penduduk Bali dan telah mendorong pada sektor seni lukis, seni pahat dan kerajinan lainnya, namun kita mulai merasakan aspek-aspek negatif daripada perkembangan ini (tanpa pada, sedang-kan daripada sebaiknya dari).

(1)   Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan pola kepribadian yang sedang berkembang.
(2)  Sejak lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alat, atau pihak lain karena merasa dirinya lebih kuat.
(3)  Walaupun segi kepariwisataan telah memberi lapangan kerja kepada penduduk Bali dan telah mendorong  sektor seni lukis, seni pahat dan kerajinan lain-nya, tetapi kita mulai merasakan aspek-aspek negatif dari per-kembangan ini.


3)      Kesalahan lain yang dapat merusak koherensi adalah  pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakekatnya mengandung kontradiksi.

Koherensi Tidak Baik

Koherensi Baik
(1)      Demi untuk kepentingan saudara sendiri, saudara dilarang merokok (demi kepentingan atau untuk kepentingan)
(2)      Sering kita membuat suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari (suatu kesalahan atau kesalahan-kesalahan)
(1)   Demi/untuk kepentingan saudara sendiri, saudara dilarang merokok.
(2)   Sering kita membuat suatu kesalahan/kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari.


4)      Suatu corak kesalahan yang lain yang sering dilakukan sehubungan dengan persoalan koherensi atau kepaduan kalimat adalah salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb.) pada kata kerja tanggap.

Koherensi tidak Baik

Koherensi Baik
(1)      Saya sudah baca buku itu hingga tamat (kurang baik, bahasa percakapan)
(2)      Buku itu saya sudah  baca hingga tamat (salah)
(1)   Buku itu sudah saya baca hingga tamat (baik)


Jadi,  saya baca, kau pukul, kami lihat dsb, sebagai bentuk tanggap tidak boleh diselingi keterangan apapun, karena hubungan antara keduanya sangat mesra.


c. Penekanan

        Inti pikiran yang terkandung dalam tiap kalimat (gagasan utama) haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan. Gagasan utama kalimat tetap didukung  oleh subjek, dan predikat, sedangkan unsur yang dipentingkan dapat bergeser dari satu kata ke kata yang lain. Kata yang dipentingkan harus mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain.
Dalam bahasa lisan kita dapat mempergunakan tekanan, gerak-gerik dan sebagainya untuk memberi tekanan pada sebuah kata. Dalam bahasa tulisan  halini tidak mungkin dilakukan. Namun masih terdapat beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memberi penekanan itu, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulisan. Cara-cara yang dapat ditempuh di antaranya sebagai berikut.

1)      Mengubah-ubah posisi kata dalam kalimat
Sebagai prinsip dapat dikatakan bahwa semua kata yang ditempatkan pada awal kalimat adalah kata yang dipentingkan. Berdasarkan prinsip tersebut, untuk mencapai efek yang diinginkan sebuah kalimat dapat diubah-ubah strukturnya dengan menempatkan sebuah kata yang dipentingkan pada awal kalimat.

(1) Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakan lagi soal ini.
Kalimat di atas menunjukkan bahwa kata yang dipentingkan adalah kami (berharap), bukan yang lain-lain. Di samping, kami kita dapat memberi penekanan pada kata-kata lainnya: harap, pada kesempatan lain, kita, soal ini. Kata-kata tersebut dapat ditempatkan pada awal kalimat, dengan konsekuensi bahwa kalimat di atas bisa mengalami perubahan strukturnya, asal isinya tidak berubah.
Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
Pada kesempatan lain kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini
Kita dapat membicarakan lagi soal ini pada kesempatan lain, demikian harapan kami.
Soal ini dapat kita bicarakan pada kesempatan lain, demikian harapan kami.

2)      Mempergunakan repetisi
Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat. Perhatikan contoh berikut.
(1)     Harapan kita demikianlah dan demikian pula harapan setiap pejuang.

3)      Pertentangan
Pertentangan dapat pula dipergunakan untuk menekan suatu gagasan. Kita bisa saja mengatakan secara langsung hal-hal berikut dengan konsekuensi bahwa tidak terdapat penekanan.
(1) Anak itu rajin dan jujur
(2) Ia menghendaki perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu.
Agar kata rajin dan jujur serta menghendaki perbaikan yang menyeluruh dapat lebih ditonjolkan, kedua gagasan itu ditempatkan dalam suatu posisi pertentangan, misalnya:
(1a) Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
(2a) Ia tidak menghendaki perbaikan yang bersifat tambal sulam, tetapi perbaikan yang menyeluruh  di perusahaan itu.

4)      Partikel Penekan
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel yang berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat. Partikel-partikel yang dimaksud adalah: lah, pun, kah, yang oleh kebanyakan tatabahasa disebut imbuhan.
   (1) Saudaralah yang harus bertanggungjawab dalam soal itu
   (2) Kami pun turut dalam kegiatan itu

 

d. Variasi

Keraf (1997) menyatakan variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetisi atau pengulangan sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, lebih banyak menekankan kesamaan bentuk. Pemakaian bentuk yang sama secara berlebihan akan menghambarkan selera pendengar atau pembaca.
Karena itu, ada upaya lain yang bekerja berlawanan dengan repetisi yaitu variasi. Variasi tidak lain daripada menganeka-ragamkan bentuk-bentuk bahasa  agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang.  Variasi dalam kalimat dapat diperoleh dengan beberapa macam cara, di antaranya, yaitu: variasi sinonim kata, variasi panjang pendeknya kalimat,  variasi penggunaan bentuk me- dan di-, dan variasi dengan merubah posisi dalam kalimat.

1)      Variasi sinonim kata
Variasi berupa sinonim kata, atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakekatnya tidak merubah isi dari amanat yang akan disampaikan.
(1)   Dari renungan itulah penyair menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai seluruh puisi (BKI).

Pengertian makna, realitas yang baru, dan kebenaran merupakan  hal yang sama diperoleh penyair dalam renungannya itu.

2)      Variasi panjang pendeknya kalimat
Variasi dalam panjang pendeknya struktur kalimat akan mencerminkan dengan jelas pikiran pengarang, serta pilihan yang tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat memberi tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan. Bila kita menghadapi kalimat atau rangkaian kalimat panjang yang identik strukturnya, maka itu merupakan pertanda bahwa kalimat tersebut kurang baik digarap, serta pikiran pengarang sendiri tidak jelas. Perhatikan variasi panjang pendek kalimat dalam contoh berikut.
(1) Saudara J.U. Nasution memberikan alasan untuk menolak sajak tersebut dengan mengutarakan bahwa puisi itu tidak mengikuti logika puisi, pada malam lebaran tidak ada bulan. Sebenarnya tak perlu kita bawa logika puisi untuk menolak puisi tersebut. Penciptaan puisi memang bukanlah hanya dapat melambangkan banyak hal. Akan tetapi, pernyataan itu juga harus intensif, yang dengan sendirinya dapat menimbulkan kesan kepada pembaca, dan kesan itu timbul bukan karena peneliti pernah mengalami hal yang sama atau mengetahui jiwa penyair atau situasi penyair waktu menciptakan sajak itu. Dari segi syarat-syarat tema juga sudah terang saja itu bukanlah suatu puisi yang baik. Dia juga harus memberi sesuatu kepada manusia dan yang diberikan itu haruslah sesuatu yang berharga (BKI).

Bila kita perinci fragmen di atas, kalimat (1) mengandung 23 kata (nama orang dihitung satu kata), kalimat selanjutnya berturut-turut terdiri atas: 11 kata, 9 kata, 37 kata, 15 kata, dan 16 kata. Ternyata fragmen ini tidak membosankan karena cukup mengandung variasi.

3)      Variasi penggunaan bentuk me- dan di-
Pemakaian bentuk gramatikal yang sama dalam beberapa kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Sebab itu haruslah dicari variasi pemakaian bentuk gramatikal, terutama dalam mempergunakan bentuk-bentuk kata kerja yang mengandung prefiks me- dan di-.
(1)     Seorang ahli Inggris yang duduk dalam Tim Penelitian dan Pengembangan Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa di daerah-daerah yang luas, tetapi tipis penduduknya serta kurang aktivitas ekonominya, seyogyanya pemerintah tidak membangun pelabuhan samudra. Namun, pemerintah tidak memutuskan demikian.

Kutipan itu akan terasa lain kalau dibuat variasi berikut.

(1a) Seorang ahli Inggris yang duduk dalam Tim Penelitian dan Pengembangan Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa di daerah-daerah yang luas, tetapi tipis penduduknya serta kurang aktivitas ekonominya, seyogyanya pemerintah tidak dibangun pelabuhan samudra. Namun, pemerintah tidak memutuskan demikian.



4)  Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat
Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat sebenarnya  mempunyai sangkut paut juga dengan penekanan dalam kalimat.
Bagaimana saudara membuat variasi kalimat berikut dengan memberi tekanan pada kata-kata yang terdapat dalam kurung:
(1)     Di bidang angkutan udara MNA mempergunakan pesawat Twin Otter yang harganya tiga kali lebih mahal dari harga Dakota, karena  beberapa keunggulannya. (Pergunakan; MNA; pesawat Twin Otter; harganya tiga kali lebih mahal; karena beberapa keunggulannya).
(2)     Pelaksanaan bantuan hukum di negara kita, yang dilaksanakan atas dasar peraturan peninggalan zaman penjajahan dahulu sifatnya sangat terbatas. (di negara kita; peraturan peninggalan zaman penjajah; sifat yang sangat terbats).

e. Paralelisme

            Bila variasi struktur kalimat merupakan suatu alat yang baik untuk menonjolkan gagasan sentral, paralelisme juga menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur/konstruksi gramatikal yang sama. Bila salah satu dari gagasan itu ditempatkan dalam struktur kata benda, maka kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang lain yang menduduki fungsi yang sama harus juga ditempatkan dalam struktur kata benda; bila yang satunya ditempatkan dalam kata kerja, maka yang lain-lainnya huha harus ditempatkan dalam struktur kata kerja.
            Paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama. Perhatikan kutipan berikut:

(1)     Apabila pelaksanaan pembangunan lima tahun kita jadikan titik-tolak, menonjollah beberapa masalah pokok yang minta perhatian dan pemecahan. Reorganisasi administrasi depertemen-departemen. Ini yang pertama. Masalah pokok yang lain yang menonjol ialah pemborosan dan penyelewengan. Ketiga karena masalah pembangunan ekonomi yang kita jadikan titik-tolak, kita ingin juga mengemukakan faktor lain, yaitu bagaimana memobilisasi potensi nasional secara maksimal dalam partisipasi pembangunan ini. (Kompas)
Pada tulisan di atas, reorganisasi administrasi, pemborosan dan penyelewengan, serta mobilisasi nasional merupakan masalah pokok yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Dengan mempergunakan konstruksi yang paralel ketiganya dapat dihubungkan secara mesra, serta akan memberi tekanan yang lebih jelas pada ketiga-tiganya:
(1a) Baik: reorganisasi administrasi departemen-departmen; penghentian pemborosan dan penyelewengan-penyelewengan, serta mobilisasi potensi-potensi nasional, merupakan masalah-masalah pokok yang meminta perhatian kita. (semuanya kata benda).
(1b) Salah: reorganisasi administrasi departemen-departmen; menghentikan pemborosan dan penyelewengan-penyelewengan, serta mobilisasi potensi-potensi nasional, merupakan masalah-masalah pokok yang meminta perhatian kita. (tidak semua kata benda; ada kata kerja).


 

f. Penalaran atau logika

            Struktur gramatikal yang baik bukan merupakan tujuan dalam komunikasi, tetapi sekedar merupakan suatu alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud dengan sejelas-jelasnya.
Di samping itu, dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami kenyataan-kenyataan yang menunjukkan bahwa ada anggota masyarakat yang dapat mengungkapkan pendapat dan isi pikirannya dengan teratur, tanpa mempelajari secara khusus struktur gramatikal suatu bahasa. Berarti ada unsur lain yang harus diperhitungkan dalam pemakaian suatu bahasa. Unsur lain ini adalah segi penalaran atau logika. Jalan pikiran pembicara turut menetukan baik tidaknya kalima seseorang, mudah tidaknya pikirannya dapat dipahami.
            Yang dimaksud dengan jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubung-hubungkan evidensi-evidensi menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal. Ini berarti kalimat-kalimat yang diucapkan harus bisa dipertanggung-jawabkan dari segi akal yang sehat atau singkatnya harus sesuai dengan penalaran. Bahasa tidak bisa lepas dari penalaran.
            Tulisan-tulisan yang jelas dan terarah merupakan perwujudan daripada berpikir logis. Perhatikan kalimat-kalimat berikut. Tiap bagian kalimat (klausa) dapat dimengerti, namun penyatuannya menimbulkan hal yang tidak bisa atau sulit diterima akal:
(1)     Dia mengatakan pada saya bahwa ia telah lulus, tetapi anjing itu tidak mau mengikuti perintah pemburu itu.
(2)     Orang itu mengerjakan sawah-ladangnya dengan sekuat tenaga karena mahasiswa-mahasiswa Indonesia harus menggarap suatu karya ilmiah sebelum dinyatakan lulus dari suatu perguruan tinggi.


 



II. Ketidakefektifan Kalimat
Kalimat dikatakan tidak efektif karena beberapa sebab. Penyebab itu antara lain adalah (1) kalimat itu tidak menyatakan gagasan yang logis, (2) kalimat itu tidak bermakna tunggal (taksa), (3) kalimat itu tidak menggunakan kata yang konseptual, lugas, dan baku, (4) kalimat itu tidak gramatikal, (5) kalimat itu tidak dinyatakan dengan bentuk kata yang benar, (6) kalimat itu  menggunakan kata-kata yang mubazir,  (7) kalimat itu tidak ditulis dengan kaidah tata tulis yang benar.

a. Pemakaian Kalimat Tidak Logis
Amatilah contoh berikut! Mengapa kalimat di sebelah kiri dikategorikan sebagai kalimat  tidak logis dan sebelah kanan dikatakan kalimat logis?

Kalimat tidak logis
Kalimat Logis
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, maka laporan ini berhasil kami selesaikan (Sunardji dan Hartono 1998).
1.      Dengan selesainya laporan ini saya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Atas rahmat dan hidayah yang dilimpahkan-Nya kepada saya.
2.      Puji syukur saya panjatkan ke pada Allah swt. Atas rahmat dan hidayah-nya saya mampu menyelesaikan laporan ini.
1.      Jam terbang yang berusaha dicapai itu tidak seluruhnya harus dikejar oleh CN 235 “tetuko” buatan Nurtanio.
2.      Diharapkan dengan uang tersebut dapat meringankan beban hidup rakyat yang menderita.
3.      Gambar ini menunjukkan hampir menyerupai bulan.
4.      Bolehkah karcis bis yang tidak dipakai bisa ditular? (Badudu 1986).
1.      Jam terbang yang diusahakan dicapai itu tidak seluruhnya harus dikejar oleh CN 235 “tetuko” buatan Nurtanio.
2.a Diharapkan dengan uang tersebut dapat diringankan beban hidup rakyat yang menderita.
2.b Diharapkan dengan uang tersebut beban hidup rakyat yang menderita dapat diringankan.
3.a  Gambar ini hampir menyerupai bulan.
3.b Gambar ini bentuknya hampir menyerupai bulan. (yang hampir menyerupai bulan itu ilaha bentuknya).
3.c  Gambar ini menunjukkan bentuk yang hampir menyerupai bulan.
3.d  Gambar ini bentuknya hampir seperti bulan.
4.a  Bolehkah ditukar karcis bis yang tidak dipakai?
4.b Karcis bis yang tidak terpakai bolehkah ditukar?
4.c Karcis bis yang tidak terpakai bisa ditukarkan?

b. Kalimat itu tidak bermakna tunggal (taksa)
Amatilah contoh berikut! Anda. Mengapa kalimat di sebelah kiri dikategorikan sebagai kalimat  bermakna ganda?

Kalimat Bermakna Ganda
Kalimat Bermakna Tunggal
Anak pengusaha itu menemukan dompet di kardus yang setelah diperiksa ternyata berisi surat keterangan diri.
1.        Anak pengusaha itu menemukan dompet di dalam kardus yang setelah diperiksa ternyata dompet itu berisi surat keterangan diri. (Ini bila yang dimaksudkan dompet itu berisi surat keterangan diri).
2.        Anak pengusaha itu menemukan dompet di dalam kardus, yang setelah diperiksa ternyata kardus itu berisi surat keterangan diri (Ini bila yang dimaksud kardusnya yang berisi surat keterangan diri).
3.        Anak pengusaha itu menemukan dompet di dalam kardus. Setelah diperiksa, ternyata dompet itu berisi surat keterangan diri.
4.        Anak pengusaha itu mmenemukan dompet di dalam kardus. Setelah diperiksa, ternyata kardus itu berisi surat keterangan diri. 
Anak pengusaha yang gemuk itu menemukan dompet di kardus yang setelah diperiksa ternyata berisi surat keterangan diri.
1.      Anak pengusaha yang gemuk itu menemukan dompet di dalam kardus. Setelah diperiksa ternyata dompet itu berisi surat keterangan diri. (Ini bila yang gemuk adalah pengusahanya).
2.      Anak pengusaha-yang gemuk itu menemukan dompet di dalam kardus. Setelah diperiksa ternyata dompet itu berisi surat keterangan diri. (Ini bila anaknya yang gemuk).
Dalam tulisan ini tidak akan mempersoalkan apakah barang yang dibeli itu telah menjadi miliknya atau belum
1.          Dalam tulisan ini tidak akan dipersoalkan apakah barang yang dibeli itu telah menjadi miliknya atau belum.
2.          Tulisan ini tidak akan mempersoal-kan apakah barang yang dibeli itu telah menjadi miliknya atau bukan.
Sudah berulangkali saya peringatkan, tetapi begitu saja tingkah lakunya.
1.      Sudah berulang-ulang saya peringat-kan, tetapi begitu saja tingkah laku-nya.
2.      Sudah berkali-kali saya peringatkan, tetapi begitu saja tingkah lakunya.

c. Kalimat itu tidak menggunakan kata yang konseptual, lugas, dan baku
Amatilah contoh berikut! Mengapa kalimat di sebelah kiri dikategorikan sebagai kalimat  tidak baku?

Kalimat tidak Baku
Kalimat Baku
Mereka sedang diskusi kalimat efektif.
Mereka sedang berdiskusi kalimat efektif.
Siapa yang ambil buku itu?
Siapa yang mengambil buku itu?
Buku itu dia subah baca.
Kemarin dia ketemu saya di tokok buku.
Buku itu sudah dia baca.
Kemarin dia bertemu saya di toko buku.
Kami berterima kasih yang mana Bapak sudi menghadiri acara ini.
Kami berterima kasih karena Bapak bersedia menghadiri acara ini.
Dia cuman pegawai rendahan. Maklum, dia kurang wawasan.
Dia cuma pegawai rendahan. Maklum, dia kurang wawasan.
Hari ini pegawai kantor itu mendapat pengarahan pimpinannya.
Hari ini pegawai kantor itu mendapat arahan pimpinannya.

d. Kalimat itu tidak gramatikal
Amatilah contoh berikut! Mengapa kalimat di sebelah kiri dikategorikan sebagai kalimat  tidak gramatikal, mengikuti pola kalimat bahasa Indonesia sendiri?
Apakah ketidakgramatikalan kalimat itu disebabkan oleh (1) kalimat tanpa subjek yang terjadi karena penulis mengira judul atau kata topik yang telah disebut di muka menjadi bagian kalimat pertama dan kalimat berikutnya, (2) kalimat tanpa subjek yang terjadi karena kerancuan bernalar, (3) kalimat tanpa predikat, (4) kalimat berpola bahasa lain, (5) kesalahan morfologi, (6) ketaksejajaran pola, (7) pengulangan pola yang sama, (8) penggunaan preposisi yang salah, dan/atau (9) penggantian sesuatu yang disebut sebelumnya.
Kalimat tidak Gramatikal
Kalimat Gramatikal
Monosakarida
Yaitu karbohidrat yang paling sederhana susunan molekulnya. Yang termasuk golongan ini ialah glukosa, fluktosa, dan galaktosa. Terdapat pada sari tumbuh-tumbuhan dan sari buah-buahan. Sifatnya larut dalam  air dan rasanya manis. Juga disebut gula sederhana karena setiap molekul terdiri atas satu molekul gula.
Monosakarida
Monosakarida yaitu karbohidrat yang paling sederhana susunan molekulnya. Yang termasuk golongan ini ialah glukosa, fluktosa, dan galaktosa. Terdapat pada sari tumbuh-tumbuhan dan sari buah-buahan. Sifatnya larut dalam  air dan rasanya manis. Juga disebut gula sederhana karena setiap molekul terdiri atas satu molekul gula.
1.      Di daerah-daerah sudah mempu-nyai Lembaga Bahasa.
2.      Di dalam pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara anak didik dan pendidik.
3.      Karena bahasa Kesatuan Indonesia yang berasal dari bahasa nasionalnya.
4.      Terhadap orang yang lebih tinggi umurnya dan atau kedudukannya berbeda caranya.
1.      Daerah-daerah sudah mempunyai Lembaga Bahasa.
2.      Pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara anak didik dan pendidik.
3.      Bahasa Kesatuan Indonesia berasal dari bahasa nasionalnya.
4.      Orang yang lebih tinggi umurnya dan atau kedudukannya berbeda caranya.

Di samping itu pula Jakarta yang merupakan pusat dari pemerintahan di mana seluruh lembaga-lembaga pemerin-tah di ibu kota.
1.      Di samping itu pula, Jakarta merupakan pusat pemerintahan se-hingga lembaga-lembaga pemerintah-an ada di ibu kota.
2.      Di samping itu pula, Jakarta merupakan pusat pemerintahan. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pemerin-tahan ada di ibu kota.
Tes ini melaksanakannya sulit.
Cara melaksanakan tes ini sulit.
Pekerjaannya ialah mengurus pengepakan barang, mengirim barang, dan menyimpan barang.
1.   Pekerjaannya ialah mengurus pengepakan, pengiriman, dan penyimpanan barang.
2.   Pekerjaannya ialah mengepak, mengirim, dan menyimpan  barang.
1.      Dalam penyuluhan bahasa ini kita akan membicarakan tentang (mengenai) penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.      Usaha itu akan memberikan daripada keuntungan yang besar.
3.      Keuntungan yang besar akan diberikan daripada usaha yang dilakukan itu.
1.      Dalam penyuluhan bahasa ini kita akan membicarakan (ihwal) penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.      Usaha itu akan memberikan keuntungan yang besar.
3.      Keuntungan yang besar akan diberikan usaha yang dilaksanakan itu.
1.      Di desa desa mengadakan beraneka ragam lomba.
2.      Untuk membangun gedung ini memerlukan dana yang banyak,
3.      Dari hasil pemeriksaan itu membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
1.a Di desa desa diadakan beraneka ragam lomba.
1.b Desa-desa mengadakan beraneka ragam lomba.
2.a Untuk membangun gedung ini di perlukan dana yang banyak.
2.b  Membangun gedung ini memerlukan dana yang banyak.
3.a Dari hasil pemeriksaan itu dibuktikan bahwa ia tidak bersalah.
3.b Hasil pemeriksaan itu membuktikan bawa ia tidak bersalah.



e. Kalimat itu tidak dinyatakan dengan bentuk kata yang benar
Amatilah contoh berikut! Mengapa kalimat di sebelah kiri dikategorikan sebagai kalimat  yang pembentukan katanya tidak benar?
Kalimat yang Pembentukan Katanya tidak Benar
Kalimat yang Pembentukan Katanya Benar
Pemboman gedung itu dilakukan oleh kelompok orang yang suka iseng.
Pengeboman gedung itu dilakukan oleh kelompok orang yang suka iseng.
Salah seorang yang mempelopori berdirinya koperasi di desa ini ialah Bapak Lurah.
Salah seorang yang memelopori berdirinya koperasi di desa ini ialah Bapak Lurah.
Hanya usaha kita sendirilah yang dapat merubah nasib kita.
Hanya usaha kita sendirilah yang dapat mengubah nasib kita.

f. Kalimat itu  menggunakan kata-kata yang mubazir


 

Amatilah contoh berikut! Mengapa kalimat di sebelah kiri dikategorikan sebagai kalimat  yang boros (tidak efisien) penggunaan katanya?

Kalimat yang Penggunaan Katanya tidak Efisien
Kalimat yang Penggunaan Katanya Efisien
1.      Tidak diragukan lagi bahwa dialah orangnya yang tepat.
2.      Kera adalah binatang pemamah biak.
3.      Kemarin presiden  telah meninjau usaha peternakan di daerah Bogor.
4.      Pemerintah memutuskan untuk mencabut larangan berkumpul.
5.      Keterangan dari Menteri Perdagangan membuat petani kecewa.
1.      Tidak diragukan lagi dialah orangnya yang tepat.
2.      Kera binatang pemamah biak.
3.      Kemarin presiden   meninjau usaha peternakan di daerah Bogor.
4.      Pemerintah memutuskan  mencabut larangan berkumpul.
5.      Keterangan Menteri Perdagangan membuat petani kecewa.
6.      Semua siswa-siswa diharapkan mengikuti les privat.
7.      Beberapa orang-orang yang tidak setuju dengan kkeputusan ini diharapkan mengajukan keberatan.
8.      Untuk membangun yayasan ini, banyak persoalan-persoalan intern yang harus diselesaikan dahulu.
6.      Semua siswa diharapkan mengikuti les privat.
Siswa-siswa diharapkan mengikuti les privat.
7.      Beberapa orang yang tidak setuju dengan keputusan ini diharapkan mengajukan keberatan.
Orang-orang yang tidak setuju dengan keputusan ini diharapkan mengajukan keberatan.
8.      Untuk membangun yayasan ini, banyak persoalan intern yang harus diselesaikan.
Untuk membangun yayasan ini, persoalan-persoalan intern yang harus diselesaikan dahulu.
 

III. Latihan Mengoreksi Ketidakefektifan Kalimat
Amatilah secara cermat contoh tulisan berikut. Pada contoh tulisan berikut  yang perlu Anda cermati adalah keefektifan kalimat.

Naskah 1


 

1.    Setelah kira-kira setengah jam, angkatlah panci tadi. Dan makanan siap dihidangkan.
2.    Aku murid sekolah dasar. Atau boleh juga disebut pelajar.
3.    Hidangkanlah makanan itu di atas piring. Lalu makanan itu siap dimakan.
4.    Analisis dilakukan terhadap kalimat tunggal lebih dahulu. Kemudian kalimat majemuk.
5.    Bahasa Indonesia menuntut kelengkapan unsur sintaksis. Serta kejelasan makna.
6.    Mungkin janggal kedengarannya. Tetapi memang begitulah seharusnya.
7.    Bagian rutin meliputi : pengetikan, penempatan cursor, … dan pengoperasian file. Sedangkan bagian tambahqan berisikan fasilitas peningkatan dan perlengkapan dari bagian rutin.
8.    Ia tidak mengambil buku itu. Melainkan memindahkannya ke lemari buku.



Perbaikan
1.  Setelah kira-kira setengah jam, angkatlah panci tadi dan makanan siap dihidangkan.
2.  Aku murid sekolah dasar  atau boleh juga disebut pelajar.
3.  Hidangkanlah makanan itu di atas piring,  lalu makanan itu siap dimakan.
4.  Analisis dilakukan terhadap kalimat tunggal lebih dahulu,  kemudian kalimat majemuk.
5.  Bahasa Indonesia menuntut kelengkapan unsur sintaksis serta kejelasan makna.
6.  Mungkin janggal kedengarannya, tetapi memang begitulah seharusnya.
7.  Bagian rutin meliputi  pengetikan, penempatan cursor, …, dan pengoperasian file, sedangkan bagian tambahan berisikan fasilitas peningkatan dan perlengkapan bagian rutin.
8.  Ia tidak mengambil buku itu, tetapi memindahkannya ke lemari buku.

Naskah 2
1.        Survei itu terpaksa dilaksanakan juga, walaupun tim mengalami berbagai hambatan.
2.        Walaupun banyak komposisi musik yang dipergunakan dalam penelitian ini, tetapi hasil yang diperoleh tidak menyimpang dari maknanya.
3.        Kualitas administrasi pemerintahan dan pembangunan relatif lebih baik, walaupun prasarananya masih kurang.
4.        Laporan penelitian ini tidak tersusun seperti ini, jika tidak mendapat bantuan berbagai pihak.
5.        Desa hanya dapat berkembang atau dikembangkan, jika kita bertolak atau berdasarkan potensi desa itu.
6.        Proses ini akan lebih pesat, apabila gerak perubahan mendapat pula tanggapan yang positif dari masyarakat umum.
7.        Pemeriksaan laboratorium diulang lagi, apabila perlu.
8.        Instrumen penelitian sudah selesai disusun, sebelum dana penyusunan tim diterima.
9.        Bahasa yang sama dipakainya, ketika responden berbicara kepada kemenakan yang tinggal dirumahnya, tanpa atau dengan kehadiran orang lain.
10.    Rancangan penelitian sebaiknya dipakai sebagai pedoman kerja pelaksanaan penelitian. Agar hasil yang dicapai tidak menyimpang dari apa yang dinyatakan dalam rancangan.
11.    Agar  kredit dapat diperoleh untuk suatu jumlah yang dikehendaki dialporkan adalah persediaan barang dagangan.
12.    Pembagian suku kata dalam suku Sasak jatuh di antara dua vokal yang berdampingan, karena setiap vokal bahasa Sasak merupakan inti suku kata.
13.    Karena kemajuan teknologi kini orang mulai menggunakan lambang polaresisi mobil untuk menggantikan kuda.
14.    Karena hidupnya merumpun dan warna daunnya yang rindang tanaman ini  sering dipelihara di pot.
15.    Persamaan itu demikian besarnya, sehingga penutur bahasa Banjar sering memakainya.
16.    Teater rakyat lahir dari masyarakat secara spontan, sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari adat-istiadat dan tata kehidupan di dalam masyarakat.
17.    Kebersihan mulut tidak diperhatikan, sehingga dijauhi kawan dalam pergaulan.

Apabila kesalahan-kesalahan ketidakefektifan kalimat diperbaiki, hasil perbaikan itu sebagai berikut.

Perbaikan
1.    Survei itu terpaksa dilaksanakan juga walaupun tim mengalami berbagai hambatan.
2.    Walaupun banyak komposisi musik yang dipergunakan dalam penelitian ini, hasil yang diperoleh tidak menyimpang dari maknanya.
3.    Kualitas administrasi pemerintahan dan pembangunan relatif lebih baik walaupun prasarananya masih kurang.
4.    Laporan penelitian ini tidak tersusun seperti ini jika tidak mendapat bantuan berbagai pihak.
5.    Desa hanya dapat berkembang atau dikembangkan jika kita bertolak atau berdasarkan potensi desa itu.
6.    Proses ini akan lebih pesat apabila gerak perubahan mendapat pula tanggapan yang positif dari masyarakat umum.
7.    Pemeriksaan laboratorium diulang lagi apabila perlu.
8.    Instrumen penelitian sudah selesai disusun sebelum dana penyusunan tim diterima.
9.    Bahasa yang sama dipakainya ketika responden berbicara kepada kemenakan yang tinggal di rumahnya, tanpa atau dengan kehadiran orang lain.
10.  Rancangan penelitian sebaiknya dipakai sebagai pedoman kerja pelaksanaan penelitian agar hasil yang dicapai tidak menyimpang dari apa yang dinyatakan dalam rancangan.
11.  Agar  kredit dapat diperoleh untuk suatu jumlah yang dikehendaki, dilaporkan adanya sejumlah persediaan barang dagangan.
12.  Pembagian suku kata dalam suku Sasak jatuh di antara dua vokal yang berdampingan karena setiap vokal bahasa Sasak merupakan inti suku kata.
13.  Karena kemajuan teknologi, kini orang mulai menggunakan lambang polaresisi mobil untuk menggantikan kuda.
14.  Karena hidupnya merumpun dan warna daunnya yang rindang, tanaman ini  sering dipelihara di pot.
15.  Persamaan itu demikian besarnya sehingga penutur bahasa Banjar sering memakainya.
16.  Teater rakyat lahir dari masyarakat secara spontan sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari adat-istiadat dan tata kehidupan di dalam masyarakat.
17.  Kebersihan mulut tidak diperhatikan sehingga dijauhi kawan dalam pergaulan.


 





Berlatih dengan Senang

Teliti dan cermati tulisan berikut. Apakah masih terdapat ketidakefektifan kalimat? Diskusikan dengan teman Anda. Suntinglah penyusunan kalimat yang kurang tepat. Hasil penyuntingan kelompok Anda tukarkan dengan kelompok lain. Bandingkan hasil suntingan kelompok Anda dengan kelompok lain! Setelah itu, perbaiki lagi dan ditempel di papan hasil karya guru.

Latihan 1
1.  Seperti diketahui, Wordstar memiliki dua jenis menu. Yang pertama adalah pull-down menu dan yang kedua adalah classic menu. Dalam kondisi baku (default) menu pull-down yang dipakai. Kondisi ini dapat diubah, jika diinginkan. Dimana perubahan dari menu pull-down ke menu klasik dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut.
2.  Tanpa dituntut atau diminta, kasih sayang itu terus menerus dicurahkannya, hampir tanpa batas. Dan tidak pula mengharap balas. Karena kasih sayang mereka itu tulis dan ikhlas.

Latihan 2
1.    Memang benar bahwa sastra itu diciptakan bagi pembaca atau pendengar, namun tidak seorang pun yang berwenang memaksa orang lain menikmati sastra.
2.    Bahasa Indonesia tidak mereka pakai ketika berbicara tentang masasalah dinas di rumahnya, meskipun demikian hal itu tidak berarti bahwa mereka bersifat negatif terhadap pemakaian bahasa Indonesia.
3.    Dialah sebenarnya yang menetapkan perkembangan musik dalam masyarakat, oleh karena itu sejarah musik barat, tidak lain, merupakan sejarah para komponis Barat dan karya-karayanya.
4.    Hendaknya berhati-hati jangan sampai tergelinicir kearah pemaksaan. Dalam hubungan inilah letak pentingnya guru membaca buku-buku rujukan.
5.    Unsur-unsur yang konstan adalah unsur-unsur yang memelihara kesinambungan masa lampau dan masa sekarang, jadi unsur-unsur yang tetap inilah yang memelihara kesinambungan masa kemarin, kini, dan esok.
7.    Generasi muda juga akan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kesenian yang sudah mereka kenal, sebaliknya generasi muda pada umumnya cenderung menghargai hal-hal yang baru.
8.    Titik kritis itu disebut klimaks cerita. Akhirnya diperoleh keputusan bahwa bekas tahanan itu tetap tinggal di kota.
9.    Pada kesempatan ini tidak seluruh aspek bahasa Indonesia diteliti. Dengan kata lain ruang lingkup penelitian ini hanya mencakup ciri-ciri kalimat dasarnya saja.
10.  Tidak mustahil bahwa kerajaan itu berkuasa disana selama berabad-abad, akan tetapi sampai seberapa luas kekuasaannya dan seberapa besar jabatannya tidak dapat dikatakan.
11.  Tidak jarang orang menganggap bahwa bahasa lisan, bahkan tidak jarang orang menduga bahwa kaidah-kaidahnya sama benar.

Latihan 3       
 

MALAH PACARAN

Dalam menunggu berbuka puasa, masyarakat Bandung dan sekitarnya banyak mempergunakannya dengan berbagai acara. Bila kita tengok sekitar Taman Makam Pahlawan Cikutra di waktu sore, nampak dipadati pengunjung dari berbagai kalangan, ada yang masih ingusan, ada yang sudah tua, tapi yang lebih banyak adalah kaum muda.
Suasana makam tidak mengganggu mereka dalam bermain-main di sini, bahkan ada juga yang mempergunakan kesempatan tersebut untuk berpacaran. Tak dapat dipungkiri, ketika sepasang sejoli kepergok Mang Piket sedang bermesraan di daerah “keramat” itu.
Disayangkan dalam suasana bulan suci ini, masih ada juga yang salah kaprah mempergunakannya. Tempat yang seharusnya diperuntukkan buat ziarah atau semacamnya, sehingga tak urung anak yang masih hijaupun segera tahu dan mencontohkannya. Sungguh sayang bukan? (Badudu 1986:16).




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar